BUDAYA POSITIF DI SMP NEGERI 59 JAKARTA
Oleh; Esmawati Siagian (CGP Angkatan 5 DKI Jakarta), Guru SMPN 59 Jakarta
I.
LATAR BELAKANG
Menurut Ki Hadjar Dewantara " Tujuan Pendidikan adalah menuntun
segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan
dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai
anggota masyarakat". Guru hadir sebagai sosok pendidik dan pengajar
yang mempunyai peran penting dalam mendorong tercapainya ekosistem pendidikan
yang sehat,aman dan nyaman untuk membuat murid tumbuh dan berkembang sesuai
dengan kodrat alam dan zaman.
Pengembangan budaya positif dapat menumbuhkan motivasi instrinsik dalam
diri anak untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan berbudi pekerti
luhur serta berakhlak mulia. Budaya positif di sekolah adalah nilai-nilai,
keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan - kebiasaan di sekolah yang berpihak pada murid,
agar murid dapat tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang bertanggung jawab,
kritis dan penuh hormat.
II.
MEWUJUDKAN BUDAYA POSITIF DI SEKOLAH
Disiplin positif
adalah sebuah pendekatan yang dirancang untuk mengembangkan murid untuk menjadi
pribadi dan anggota dari komunitas yang bertanggung jawab, penuh hormat, dan
kritis. Disiplin positif mengajarkan keterampilan sosial dan kehidupan yang
penting dengan cara yang sangat menghormati dan membesarkan hati, tidak hanya
bagi murid tetapi juga bagi orang dewasa (termasuk orangtua, guru,teman dan masyarakat lainnya).
Guru sebagai
pamong dapat memberikan tuntunan agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam
belajar. Guru diharapkan memiliki nilai-nilai positif yang dibutuhkan untuk
membentuk karakter pelajar Pancasila dengan memberi contoh dan melakukan
pembiasaan yang konsisten di sekolah. Pengembangan budaya positif dapat
menumbuhkan motivasi instrinsik dalam diri anak untuk menjadi pribadi yang
bertanggung jawab dan berbudi pekerti luhur serta akhlak mulia.
Upaya untuk
membangun budaya positif disekolah, guru harus bekerja sama dengan seluruh warga
sekolah (kepala sekolah, guru, karyawan, murid, serta orang tua). Guru harus
memiliki peran kunci dalam pengembangan disiplin positif dengan menciptakan
ruang kelas yang berpusat pada peserta didik. Guru melibatkan dan bekerjasama
dengan orangtua dalam penerapan disiplin positif. Orang tua menciptakan suasana
rumah yang aman dan nyaman sehingga dapat menerapkan disiplin positif yang
konsisten dan memiliki hubungan baik dengan guru untuk mendukung pendekatan
disiplin positif.
III.
TUJUAN
Adapun
tujuan aksi nyata ini adalah;
1)
Terwujudnya
visi sekolah melalui penerapan budaya positif.
2)
Terbentuknya
karakter disiplin yang kuat.
3)
Menumbuhkan
dan membiasakan budaya positif dengan
keyakinan kelas
4)
Menguatkan
peran sebagai guru penggerak melalui penerapan restitusi dan posisi kontrol
sebagai manajer
IV.
TOLAK UKUR
Untuk
mengetahui sejauh mana kegiatan ini sudah dilakukan dan untuk mengontrol
kegiatan agar tetap tearah pada tujuan yang sudah ditetapkan, maka tolak ukur
yang digunakan adalah sebagai berikut:
1)
Terbentuknya
keyakinan kelas sebagai landasan dalam memecahkan permasalahan yang ada
dikelas.
2)
Keyakinan
kelas ini dibentuk dan disepakati oleh peserta didik bersama wali kelas.
3)
Konsistensi
peserta didik dan wali kelas dalam menjalankan keyakinan kelas.
4)
Diterapkannya
proses segitiga restitusi dalam membantu siswa dengan posisi kontrol sebagai
manajer
V.
LANGKAH
– LANGKAH
Langkah – langkah
dan strategi dalam mewujudkan budaya positif di sekolah secara efektif dan
mengembangkan karakter anak:
ü
Posisi kontrol Guru
Guru sebagai
manager, jika ada murid yang melakukan pelanggaran tata tertib, maka guru akan
bertanya kepada murid tentang alasan mengapa murid tersebut melanggar aturan
dan membuat kesepakatan kelas untuk melakukan tindakan perbaikan.
ü
Membuat Keyakinan Kelas
Kesepakatan kelas
merupakan aturan – aturan untuk membantu guru dan murid bekerja bersama
membentuk kegiatan belajar mengajar yang efektif. Kesepakatan kelas terdapat
harapan guru terhadap murid dan harapan murid terhadap guru. Kesepakatan yang
disusun harus mudah dipahami dan langsung diterapkan, dapat diperbaiki dan
dikembangkan secara berkala.
ü
Menerapkan Disiplin Positif
Memberikan
pemahaman disiplin pada anak yaitu untuk mengetahui perilaku mereka sendiri,
mengambil inisiatif, menjadi bertanggung jawab atas plihan mereka dan dapat
menghargai diri sendiri dan orang lain. Dalam pelaksanaannya, disiplin dapat
memberikan pemahaman kepada anak mengenai konsekuensi logis jika sebuah aturan
dilanggar. Kesalahan adalah kesempatan baik bagi anak untuk belajar menjadi
lebih baik.
VI.
KEBERHASILAN
DAN KEGAGALAN
KEBERHASILAN
Penerapan budaya
positif yang telah dilaksanakan di lingkungan sekolah adalah praktik Membentuk
Keyakinan Kelas, Penerapan Posisi Kontrol Sebagai Manajer Dalam Pembentukan
Disiplin Positif, serta Diseminasi Budaya Positif terhadap Warga Sekolah. Kegiatan
ini nantinya menjadi contoh untuk kelas lain, agar dalam pengelolaan kelas
dapat membentuk kesepakatan kelas dengan melibatkan pendidik, dan anak didik,
agar tercipta kenyamanan dalam belajar.
1)
Pembentukan Keyakinan Kelas IX-F
Linimasa;
§
Mengidentifikasi permasalahan disiplin kelas
§
Berkoordinasi dan berkolaborasi dengan wali
kelas untuk menyusun keyakinan kelas
§
Menyusun keyakinan kelas bersama murid kelas
IX-F
§
Mengevaluasi dan merefleksi pelaksanaan keyakinan
kelas IX-F
Tautan praktik pembentukan
keyakinan kelas 9F
2)
Praktik Posisi Kontrol Sebagai Manajer Dalam
Penerapan Disiplin Positif
Kasus 1; Hendri
(9C) beberapa kali tidak mengerjakan tugas.
Kasus 2;
Ifah (9A) kedua kali terlambat masuk kelas.
Tautan parktik segitiga
restitusi;
3)
Melaksanakan diseminasi untuk rekan guru tentang
Budaya Positif
Linimasa;
§ Melaksnakan
diseminasi untuk rekan guru tentang Budaya Positif
§ Berkoordinasi
dan berkolaborasi dengan wali kelas untuk menyusun keyakinan kelas
§ Menyusun
keyakinan kelas
§ Memantau,
merefleksi dan mengevaluasi keyakinan yang telah disusun
KEGAGALAN
Penerapan budaya positif di sekolah masih terdapat
beberapa kegagalan seperti;
-
Penerapan
restitusi yang belum maksimal terhadap sebagain siswa, karena keterbatasan
waktu dan tenaga serta jumlah murid yang banyak.
-
Sebagian
murid belum konsisten mematuhi keyakinan kelasnya sehingga penerapannya belum maksimal.
-
Sebagian
guru tidak mengikuti diseminasi karena berbagai kesibukan saat pelaksanaannya
V. PENUTUP
Dengan adanya
keyakinan kelas yang sudah dibuat dan disepakati bersama-sama, diharapkan siswa
tak lagi terpaksa dan terancam dalam berbuat kebajikan yang sesuai nilai-nilai
karakter. Mereka lebih senang hati berbuat karena guru telah membiasakan
pembiasaan baik tersebut melalui keyakinan kelas sehingga terciptalah budaya
positif di kelas dan sekolah.
Melalui penerapan
praktik segitiga restitusi, murid dituntun untuk kembali ke kelompoknya dengan
karakter yang lebih kuat. Restitusi membantu murid menjadi lebih baik, disiplin
positif, dan memulihkan dirinya setelah berbuat salah.
Suksesnya seorang
murid selama di bangku sekolah hingga berada ditengah-tengah masyarakat nanti,
sangat dipengaruhi oleh pola pendidikan yang diterimanya dan pentingnya peran
guru sebagai role model bagi para peserta didik.
Sumber
referensi;
LMS
Pendidikan CGP 2022 Modul 1.4.
Komentar
Posting Komentar