Salam sehat dan bahagia Calon Guru Penggerak
Indonesia.
Perkenalkan nama saya Esmawati Siagian dari
SMP Negeri 59 Jakarta, salah seorang Calon Guru Penggerak angkatan 5 dari Provinsi
DKI Jakarta. Artikel ini saya tulis dengan maksud untuk memenuhi salah satu
tagihan tugas pada Program Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 5 tahun 2022 yang
sedang saya ikuti yakni Tugas 3.1.a.8. Koneksi Antar Materi Modul 3.1 Pengambilan
Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Seorang Pemimpin.
Artikel ini berisi deskripsi keterkaitan modul
3.1 dengan modul-modul sebelumnya yang telah saya dapatkan dengan panduan
pertanyaan pemantik yang terdapat dalam LMS seperti berikut;
Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan
Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai
seorang pemimpin?
Dalam pandangan Ki Hajar Dewantara dengan
filsofi triloka memiliki pengaruh bagaimana seorang guru memngambil suatu
keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Semboyan yang pernah dicetuskan
oleh KHD adalah Ing Ngarso Sung Tulodho (Seorang pemimpin harus mampu memberi
tauladan), Ing Madya Mangunkarsa (Seorang pemimpin juga harus mampu memberikan
dorongan, semangat dan motivasi dari tengah) , Tut Wuri handayani (Seorang
pemimpin harus mampu memberi dorongan dari belakang), yang artinya adalah
Seorang pemimpin (Guru) harus smampu memberikan teladan dan memberikan semangat
dan motivasi dari tengah juga mampu memberikan dorongan dari belakang untuk
kemajuan seorang muridnya.
Sebagai pemimpin pembelajaran harus menyadari bahwa
tugas kita adalah menuntun kodrat yang ada dalam diri murid agar berkembang
sesuai dengan kodrat dan zamannya sehingga murid kita menjadi manusia yang
dimanusiakan dan manusia yang bisa memiliki kebahagiaan yang setinggi-tingginya
baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Dengan alasan
tersebut maka seorang guru yang dianggap sebagai pemimpin pembelajaran harus
mampu menjadi sosok yang bisa mengambil suatu keputusan yang tepat yang
berpihak pada murid.
Dan dalam mengambil suatu keputusan dari suatu
permasalah yang timbul saat menjalankan perannya sebagai penuntun maka seorang
guru harus menerapkan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 Prinsip pengambilan
keputusan dan melakukann 9 langkan dalam pengambilan keputusan, baik dalam
masalah dengan jenis dilema etika atau masalah dengan jenis bujukan moral.
Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri
kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan
suatu keputusan?
Seorang pemimpin pembelajaran wajib memiliki
nilai-nilai kebajikan dalam dirinya, seperti; nilai keadilan, tanggung Jawab, kejujuran,
bersyukur, lurus hati, berprinsip, integritas, kasih sayang, rajin, komitmen,
percaya diri, kesabaran, dan nilai universal lainnya. Nilai-nilai
kebajikan tersebut akan memengaruhi sikap seorang guru dalam pengambilan
keputusan dari permasalahan yang timbul dalam kegiatan pendidikan. Karena
nilai-nilai kebajikan yang ada dalam diri guru diibaratkan seperti gunung es
yang hanya terlihat kecil dipermukaan air tetapi merupakan bagian yang besar di
dalam alam bawah sadar kita. Untuk itu penting bagi seorang guru untuk
memupuk nilai-nilai kebajikan tersebut agar seorang guru bisa menjiwai sebuah
keputusan yang tepat dari permasalhan yang muncul.
Bagaimana materi pengambilan keputusan
berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau
fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian
pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan
tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas
pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi
'coaching' yang telah dibahas pada sebelumnya.
Coaching merupakan keterampilan seseorang
dalam menggali kemampuan orang lain untuk memecahkan suatu masalah yang
dihadapi. Dalam melaksanakan tugas sebagai pemimpin pembelajaran, guru
juga harus memiliki keterampilan coaching. Keterampilan ini sangat
membantu dalam menguji pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah keputusan-keputusan yang kita
ambil berbasis etika, sesuai visi misi sekolah yang berpihak pada murid, budaya
positif, serta nilai-nilai yang dianggap penting dalam sebuah institusi,
sehingga prinsip-prinsip dasar yang menjadi acuan juga akan lebih jelas.
Keterampilan coaching juga dibutuhkan guru untuk mengoptimalkan potensi serta
bakat dari setiap anak didiknya. Dengan coaching, guru bisa membantu peserta
didik menyingkirkan sumbatan-sumbatan atau hambatan yang menghalangi proses
belajar murid. Harapannya guru sebagaai coach mampu memotivasi dan mendorong serta
membantu anak didiknya menemukan serta menggali potensinya secara optimal.
Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan
menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu
keputusan khususnya masalah dilema etika?
Seorang guru dituntut untuk memiliki kemampuan
dalam mengelola dan menyadari sosial emosionalnya dalam mengambil suatu
keputusan karena kondisi sosial emosional guru yang stabil dan baik akan
memberi pengaruh pada hasil keputusan yang diambilnya.
Maka untuk menstabilkan sosial emosional guru
dalam megambil suatu keputusan, seorang guru perlu memiliki kompetensi
kesadaran diri (self awareness), Pengelolaan diri ( self managemen), kesadaran
soial (social awareness), dan keterampilan berhubungan sosial (realtionship
skilis). Dengan kompetensi tersebut maka diharapkan guru akan mampu mengambil
suatu keputusan dengan tepat.
Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus
pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang
pendidik?
Pada pembahasan studi kasus yang berfokus pada
masalah moral atau etika diperlukan kesadaran diri atau self awareness dan
keterampilan berhubungan sosial untuk mengambil keputusan dan memiliki
kesadaran penuh dengan berbagai pilihan yang ada serta konsekuensinya
masing-masing .
Dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin
pembelajaran yang tepat yaitu pengambilan keputusan berbasis etika, sesuai visi
misi berpihak pada murid, budaya positif serta nilai-nilai yang dianggap
penting dalam sebuah institusi sehingga prinsip-prinsip dasar yang menjadi
acuan akan jelas yang mewujudkan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan
nyaman sehingga tercipta profil pelajar pancasila. Dengan memetakan 4 paradigma
dilema etika yaitu individu vs masyarakat, rasa keadilan vs rasa kasihan,
kebenaran vs kesetiaan dan jangka pendek vs jangka panjang. Pengambilan
keputusan juga berpegang pada 3 prinsip pengambilan keputusan yaitu prinsip
berbasis hasil akhir, prinsip berbasis peraturan, dan prinsip berbasis rasa
peduli. Serta perpaduan dengan 9 langkah pengambilan keputusan.
Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat,
tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan
nyaman?
Seorang guru dituntun untuk mampu mengambil
keputusan secara tepat dan minim konsekuensi karena setiap keputusan yang
diambil secara tepat, tentu akan memberikan dampak pada terciptanya lingkungan
yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Kondisi tersebut adalah kondisi yang
dicita-citakan.
Maka untuk melakukan perubahan, diperlukan suatu
pendekatan yang sistematis.
Dalam hal ini, kita menggunakan pendekatan
Inkuiri Apresiatif melalui tahapan BAGJA dengan tujuan melakukan perubahan ke
arah yang lebih baik dan berpihak pada anak. Sehingga tercipta suasana
pembelajaran yang menyenangkan bagi murid.
Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda
untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika
ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?
Dalam mengambil suatu keputusan ada 3 prinsip yang
harus diperhatikan, antara lain kita harus berpikir hasil akhir dari keputusan
kita yang sesuai dengan prinsip berpikir berbasis hasil akhir (end based
thinking), kita juga harus melihat peraturan yang mendasari keputusan yang kita
ambil (berpikir berbasis peraturan-rule based thinking), serta prinsip berpikir
berbasis rasa peduli (care based thinking).
Berdasarkan ketiga prinsip tersebut maka muncul
beberapa tantangan dilingkungan saya dalam mengambil keputusan terhadap
kasus-kasus dilema etika diantaranya hilangnya kepercayaan masyarakat (orang
tua mudir) terhadap ketentuan sekolah yang sudah dibuat. Misalnya ketika
memutuskan pengambilan keputusan berdasarkan rasa peduli dan mengabaikan
peraturan, maka kemungkinan murid maupun orang tua akan kehilangan kepercayaan
terhadap sekolah. Selain itu juga kadang
muncul tantangan lain yakni sulitnya melakukan koordinasi dengan orang tua
siswa untuk meminta dukungan dan diskusi perbaikan dari setiap keputusan yang
diambil.
Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang
kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana
kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang
berbeda-beda?
Tujuan akhir dari pembelajaran yang kita
lakukan adalah merdeka belajar. Merdeka belajar berarti siswa bebas untuk
mencapai kodrat alamnya (mengembangkan potensinya) tanpa ada tekanan dari pihak
manapun.
Siswa juga dapat mencapai kebahagiaannya
sesuai dengan potensi yang dia miiki. Maka keutusan yang kita ambil tidak boleh
merampas kebahagiaan siswa dan juga merampas potensi yang dimiliki siswa.
Dengan kata lain setiap keputusan yang diambil
harus berpihak pada murid. Karena seyogianya seorang guru menghamba pada murid.
Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam
mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan
murid-muridnya?
Guru merupakan seorang pemimpin pembelajaran
yang tugasnya adalah menuntun kodrat dasar dari siswanya. Guru diibaratkan
sebagai petani dan murid adalah benihnya maka berkembang atau tidaknya seorang
murid tergantung dari tindakan yang diberikan guru.
Pengambilan keputusan yang tepat dan bijak
sebagai pemimpin pembelajaran akan sangat mempengaruhi kehidupan atau masa
depan murid-muridnya. Seorang guru
ketika mengambil sebuah keputusan akan menjadi pembelajaran bagi setiap
muridnya. Keputusan-keputusan itu akan menjadi teladan serta memotivasi dan
mendukung potensi murid. Dan pada akhirnya membawa pengalaman yang
sedikit banyak mempengaruhi cara berfikir mereka kelak. Setiap keputusan yang
dibuat seorang guru dalam pembelajaran akan memaksimalkan potensi setiap anak
atau sebaliknya. Sehingga keberhasilan seorang guru bukan hanya mengajarkan
kecerdasan kognitif melainkan kecerdasan social- emosional serta spiritual
secara menyeluruh.
Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik
dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul
sebelumnya?
Kesimpulan akhir yang saya peroleh dari
pembelajatana materi ini dan keterkaitannya dengan modul sebelumnya adalah
·
Pengambilan
keputusan adalah suatu kompetensi atau skill yang harus dimiiki oleh guru dan
harus berlandaskan kepada filosofi Ki Hajar Dewantara yang dikaitkan sebagai
pemimpin pembelajaran.
·
Pengambilan
keputusan harus berdasarkan pada budaya positif dan menggunakan alur BAGJA yang
akan mengantarkan pada lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman (well
being).
·
Dalam pengambilan
keputusan seorang guru harus memiliki kesadaran penuh (mindfullness) untuk
menghantarkan muridnya menuju profil pelajar pancasila.
·
Dalam
perjalanannya menuju profil pelajar pancasila, ada banyak dilema etika dan
bujukan moral sehingga diperlukan panduan sembilan langkan pengambilan dan
pengujian keputusan untuk memutuskan dan memecahkan suatu masalah agar
keputusan tersebut berpihak kepada murid demi terwujudnya merdeka belajar.
Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep
yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4
paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah
pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar
dugaan?
Dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin
pembelajaran yang tepat yaitu pengambilan keputusan berbasis etika, sesuai visi
misi berpihak pada murid, budaya positif serta nilai-nilai yang dianggap
penting dalam sebuah institusi sehingga prinsip-prinsip dasar yang menjadi
acuan akan jelas yang mewujudkan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan
nyaman sehingga tercipta profil pelajar pancasila. Dengan memetakan 4 paradigma
dilema etika yaitu individu vs masyarakat, rasa keadilan vs rasa kasihan,
kebenaran vs kesetiaan dan jangka pendek vs jangka panjang. Pengambilan
keputusan juga berpegang pada 3 prinsip pengambilan keputusan yaitu prinsip
berbasis hasil akhir, prinsip berbasis peraturan, dan prinsip berbasis rasa
peduli. Serta dipadukan dengan 9 langkah pengambilan keputusan. Sembilan
keputusan tersebut yaitu:
1. Mengenali
nilai-nilai yang saling bertentangan
2. Menentukan
siapa saja yang terlibat
3. Mengumpulkan
fakta-fakta yang relevan
4. Pengujian
benar atau salah yang didalamnya terdapat uji legal, uji regulasi, uji intuisi,
uji halaman depan koran, uji keputusan panutan/idola
5. Pengujian
paradigma benar lawan benar
6. Prinsip Pengambilan
Keputusan
7. Investigasi Opsi Trilemma
8. Buat Keputusan
9. Tinjau lagi keputusan
Anda dan refleksikan
Hal-hal yang menurut saya diluar dugaan adalah
ternyata dalam pengambilan keputusan bukan hanya memutuskan sesuai peraturan
saja namun perlu mempertimbangkan 4 paradigma, 3
prinsip dan melakukan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan. Karena
selama ini saya beranggapan bahwa pengambilan keputusan cukup dengan memperhatikan
regulasi yang tepat terhadap permasalahan yang dihadapi.
Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda
menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema?
Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?
Sebelum mempelajari modul ini saya pernah
mengambil keputusan dengan situasi dilema etika. Dan pengambila keputusan
yang saya lakukan jauh berbeda dengan konsep yang saya pelajari pada modul ini,
karena dalam kasus sebelumnya saya memutuskan suatu kasus hanya menerapkan
regulasi peraturan tanpa mempertimbangkan 4 paradigma, 3 prinsip apa lagi
melakukan 9 tahapan dalam pengujian hasil keputusan.
Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat
Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan
sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?
Konsep pada modul ini sangat berdampak pada
diri saya terutama dalam pengambilan keputusan pada setiap permasalahan yang
saya temukan di lingkungan saya. Saya menyadari bahwa dalam pengambilan keputusan
tidak boleh gegabah hanya berdasarkan aturan, namun dengan tahapan-tahapan yang
tepat sehingga keputusan yang saya ambil tidak memihak satu sisi saja. Dan
setiap keputusan yang akan saya ambil kedepannya tentu harus berpihak pada
murid.
Seberapa penting mempelajari topik modul ini
bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?
Materi ini sangat penting bagi saya. Karena
sesuai dengan yang saya pelajari saya adalah guru yang merupakan pemimpin
pembelajaran maka sebagai seorang pemimpin pembelajaran maka saya harus
memiliki kecakapan dalam mengambil suatu keputusan sesuai dengan nilai-nilai
kebajikan dan mampu melakukan tahapan-tahapan pengambilan keputusan yang tepat
serta melibatkan oraang-orang atau pihak-pihak yang berwewenang dalam
pengambilan keputusan.
Komentar
Posting Komentar